“Para insinyur harus mendesain ulang perisai penangkal panas MSL. Sebab, setelah diuji, perisai yang sudah ada ternyata tidak mampu melindungi MSL dari panas atmosfer Mars,” ujar Administrator NASA Michael Griffin. Pada mulanya, pengembangan MSL diperkirakan menelan biaya USD1,8 miliar. Hingga saat ini, biaya pengembangan MSL ternyata sudah membengkak USD165 juta lebih besar daripada rencana semula.
Proses desain ulang perisai penangkal panas MSL diperkirakan akan semakin membengkakkan biaya pengembangan MSL, yakni antara USD20 juta hingga USD30 juta lagi. Namun, NASA bertekad tetap menjalankan misi MSL. Sebab, NASA yakin MSL akan mampu menyelesaikan segala polemik tentang Mars. Termasuk tentang keberadaan air dan bentuk kehidupan di Mars. MSL merupakan robot bertenaga nuklir.
Karena MSL mengandalkan energi nuklir, MSL diperkirakan bisa beroperasi lebih lama di Mars daripada wahana tak berawak Spirit dan Opportunity yang hingga kini masih beroperasi di Mars setelah diluncurkan pada empat tahun silam. Memiliki panjang sekitar tiga meter, MSL juga dilengkapi teknologi lebih tinggi daripada Spirit dan Opportunity. Spirit dan Opportunity merupakan wahana tak berawak yang menemukan jejak-jejak air di Mars. NASA menargetkan, MSL bisa mendarat di Mars pada Oktober 2010. Pada saat ini, NASA sesungguhnya sudah memiliki wahana tak berawak baru yang sedang meluncur ke Mars.
Wahana tak berawak tersebut adalah Phoenix Mars Lander (PML). PML diluncurkan dari bumi pada Agustus 2007. Namun, PML membutuhkan waktu sembilan bulan untuk mencapai Mars. NASA memperkirakan, PML akan mendarat di Mars pada Mei 2008. Dibandingkan MSL, PML merupakan wahana tak berawak yang jauh lebih murah. NASA mengaku “hanya” menghabiskan biaya USD420 juta untuk membangun PML yang menempuh perjalanan sejauh sekira 680 juta km dari bumi menuju Mars.
NASA mengungkapkan, misi PML di Mars adalah mengebor permukaan es dan tanah kutub utara planet tersebut serta melakukan penelitian ilmiah. Kendati tidak memiliki awak, PML dilengkapi instrumen sains yang mampu menganalisis sampel-sampel yang ditemukannya. Sampel-sampel tersebut kemudian akan dilarutkan ke dalam air untuk mencari kandungan garam yang kemungkinan mengendap ketika kondisi Mars masih berair.
Laboratorium PML juga memiliki oven kecil guna memecah mineral-mineral dalam sampel. Mineral-mineral tersebut bermanfaat untuk analisis kimiawi. PML juga dilengkapi alat-alat pencitraan guna mengirim gambar ke bumi. “Saya perkirakan, sampel-sampel tanah Mars akan membuahkan hasil-hasil menarik,” tandas anggota tim ilmuwan PML, Ray Arvidson, dari Washington University, AS. (sindo//mbs)